Selasa, 23 Maret 2010

kisah perjalanan hiduo i gusti ngurah rai

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Agama Hindu yang sering menjadi bahan kajian dan penelitian bagi para pengamat dan peneliti dari berbagai kalangan serta dari berbagai belajan negara di dunia agama Hindu sangat unik dan memiliki seni tersendiri, disamping itu juga agama Hindu merupakan agama yang tertua di dunia. Keberadaan Hindu di dunia memiliki daya tarik yang khusus, hal ini membuat banyak orang untuk meneliti dan ingin mengetahui tentang keberadaan Hindu
Sejarah perkembangan agama Hindu sangat penting diketahui untuk memahami jejak awal hingga kini mengenai keberadaan agama Hindu yang dianut oleh umat manusia di dunia dengan diketahui dan dipahami tentang bagaimana perkembangan agama Hindu sejak dahulu hingga kini, itu berarti bahwa umat manusia dapat melihat, mengamati serta seabgai bahan yang akurat dalam mengkaji dinamika yang telah terjadi serta bagaimana perkembangan selanjutnya
Pada mulanya agama Hindu berkembanga di lembah sungai sindhi di India yang kemudian berkembang hingga sampai di nusantara. Para ahli memperkirakan sekitar abad ke-4. Agama Hindu berkembang di nusantara yang dimulai di daerah kutai kalimantan. Dilihat dari peninggalan-peninggalan di berbagai tempat di daerah nusantara ini, baik berdasarkan penemuan-penemuan arkelogi maupun penemuan kitab-kitab berupa rontal-rontal menunjukkan bahwa peninggalan-peninggan itu pada mulanya memperlihatkan ciri Siwa yang dominan
Sejarah perkembangan agama Hindu di bali merupakan kelanjutan dari perkembangan agama Hindu yang ada dari jawa timur. Saat jayanya agama Hindu di Indonesia saat kerajaan maja pahit, maka saat itu banyak para pendeta Hindu selaku penasehat raja yaitu sebagai dharmadhyakasa Saiva dan dharmadhyaksa sogata. Agama Hindu biasa berkembang di bali adalah berkat jasa para orang suci yang datang dari Jawa Timur, oleh karena awalnya di Bali, terutama pada jaman prasejarah hanya memiliki kepercayaan kepada roh yang berstana di gunung terutama kepercayaan kepada roh nenek moyang, juga adanya kepercayaan terhadap alam nyata dan alam tidak nyata. Juga saat itu hanya ada kepercayaan setelah mati untuk menjelma kembali dari alam sana dan ada kepercayaan bahwa roh nenek moyang dapat dimintai perlindungan untuk keselamatan keturunannya
Menurut R. Goris bahwa Mpu Kuturan awal kedatangannya di Bali melihat suatu kenyataan bahwa agama Hindu yang berkembang terdiri dari sembilan sekte. Sembilan sekte tersebut adalah Siwa siddhanta, pasupata, bhairawa, waisnawa, bodha (sogatha), brahamana, resi, sora (surya), dan ganapatya. Demikian juga dalam lontar Sad Agama disebutkan agama Siwa terdiri dari enam sekte yaitu; Sambu, Brahma, Indra, Bayu, Wisnu dan Kala. Adapun ciri-ciri umum tentang adanya sekte Siwa Siddhanta di Bali misalnya adanya karya pustaka di Bali yang bernama Bhuwanakosa, Wrhaspati Tattwa, Sang Hyang Mahajnana, Catur Yuga, Widhisastra semua pustaka tersebut mengambil ajaran Siwa Siddhanta

II PEMBAHASAN
A. Kedudukan Wisnuisme dalam Sekte Waisnawa
Mengenai wisnuisme di jawa-kuna ternyata pada kita juga tidak ada perbedaan (diferensiasi) tertentu antara dua kelompok yang utama ialah; bhagawata dan pancaratra. Wisnuisme tetap dalam keadaan sama seperti di zaman epik atau beberapa waktu setelah zaman itu (purana-purana yang lebih tua). Unsur-unsur tantris jelas dapat dipersaksikan. Awatara-awatara (tulis-tulisan) belum sampai jumlah sepuluh seperti kemudian hanya enam sebagaimana pada zaman epik diketahui; celeng (waraha), si laki-singa (narasingha), si cebol (wamana), selanjutnya Rama dan Krsna
Di Bali sekarang tidak terdapat lagi wisnuisme yang diakui secara resmi, akan tetapi dapat ditemukan bekas-bekas dalam dua aliran (sepeti pada pasupata) yaitu disini lagi unsur-unsur yang diambil alih ke dalam agama umum dan disamping itu tokoh sengguhi
Unsur-unsur yang dimaksudkan ke dalam agama umum adalah; popularitas besar yang diperoleh Sri (sakti Wisnu). Dari dewi rejeki dan dewi kebahagiaan. Ia menjadi Dewi-Padi, Dewi dari makanan utama orang-orang Jawa dan Bali, dalam seluruh kekayaan dongeng-dongeng tentang Dewi Sri terdapat campuran dari unsur-unsur pribumi kuno dengan Hindu. Akan tetapi masih ada suatu unsur lagi yang dimasukkan di sini, yaitu wisnu menjadi dewa dari perairan di alam bawah. Jadi dengan demikian mempunyai sifat sebagai demonis-chotnis) termasuk benar-benar makhluk alam bawah dan chthonis
Menganggap hal ini sebagi sisa-sisa dari agama Asia-purba umum yang mempunyai cabang-cabang baik ke Babylon maupun ke Cina. Namun sementara ini masih kekurangan keterangan untuk mengangkat pendapat yang kini di anut oleh beberapa sarjana ini menjadi suatu teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada suatu corak alam bawah yang lain dalam hakekat Wisnu yang sampai kini masih terdapat di Bali. Karena dalam berbagai pura terutama di kerajaan inti Gel-gel jadi wilayah sekeliling Klungkung sekarang suatu tempat pemujaan yang dipersembahkan kepada sang Sapta Patalar, tujuh neraka dihiasi dengan kepala naga atau kepala ular yang besar dan sang ular seperti juga sang kura-kura adalah binatang yang berhubungan dengan Wisnu. Gambaran Wisnu dan Sri berdua sambil beristirahat di atas ular dunia Cesa adalah suatu gambaran yang sangat populer bagi orang hindu. Peleburan dari wisnu dan ciwa terlihat dalam patung ardhanari dalam bentuk separuh pria dan separuh wanita. Wisnu sebagai ayu mewakili unsur wanita (prakrti, prahdana).
Wisnu merupakan pelindung dari barat, penguasa atas kemakmuran, kesejahteraan, kerajaan yang diperintah dengan baik; raja biasanya dipandang sebagai titisan dari Wisnu di mana Rama dianggap yang ideal popularitas tokoh rama di Bali adalah imbangan dari pemakaian rama untuk nama raja. Gabungan sri dengan sadhana sebagai seri-sedana atau rambut-sedana di Bali merupakan nama patung-patung kecil yang disembah di pura-pura rumah sebagai patung-patung nenek moyang. Namun Wisnu sebagai dewa chotnis lebih sering merupakan pelindung dari Utara-Hitam
Dengan demikian masih terlihat adanya sisa-sisa pemujaan Wisnu dan Sri dalam agama Bali yang umum, disamping itu dalam tokoh Sengguhu terdapat sisa Wisnuisme yang tetap tersendiri. Sengguhu-sengguhu ini merupakan golongan pendeta yang tersendiri. Mereka bukan Brahmana dan bukan pendeta rakyat biasa seperti halnya pemangku di pura-pura
Bali dari sang guru, guru (Yang Mulia). Berperan pada pesta-pesta pergantian tahun yaitu pada bulan ke-9 (caitra = kasanga). Dirayakan pergantian tahun dengan suatu pesta sunyi. Pesta ini senantiasa jatuh pada musim semi. Jadi pada atau kira-kira sekitar bulan maret
Pada pesta ini diselenggarakan berbagai upacara yang menunjukkan pemberhentian magis dalam kehidupan sehari-hari. “suatu saat mengheningkan cipta”. Untuk selanjutnya memulai kembali kehidupan baru. Orang-orang memadamkan api. Lampu-lampu tidak masak dan tidak keluar ke jalan dan sebagainya
Kesepian ini (pesta ini disebut nyepi = merayakan kesepian, diam) didahului oleh suatu upacara pengorbanan pada simpang empat di tiap desa. Di sini pendeta yang memegang peranan pokok adalah sengguhu. Dengan berpakaian putih dia mengucap mantra-mantra dan mempersembahkan korban bagi alam bawah (banten ring sor). Kalau kita melihat bagaimana dalam pada itu ia mempergunakan cangkha, sengkala kerang Wisnu dan memaki seekor kura-kura (kurma) sebagai gantha dengan lonceng-lonceng di bawah. Pada tiap-tiap pengucapan doa, sengguhu sama seperti pedanda ciwa mengucapkan mantra-mantra sansekerta dan bukan mantra-mantra rumus-rumus pribumi kuno atau rumus-rumus Bali. Juga pada pesta besar yaitu pada pesta pengorbanan laut yang dirayakan tiap tahun sengguhu ini memegang peranan, disini diucapkan mantra-mantra, antara lain bagi Baruna dan Bayu dan raja ular Wasuki atau Besuki
Jadi dapat dilihat bahwa pada persembahan korban laut, suatu persembahan korban kepada Waruna, berperan seorang pendeta bercorak Wisnu, jadi suatu pengukuhan lagi dari pertempuran wisnu dengan dewa laut. Kecuali pada pesta ini.

B Ajaran Paham Waisnawa dalam Siwa Sidhanta
Siwa Sidhanta yang berkembang di Bali saat ini merupakan hasil sejarah pra hindu, Hindu dan post Hindu di daerah Bali sendiri. Walaupun Siwa sidhanta lebih mengutamakan pemujaan terhadap Siwa, juga merangkul lokal jenius kebudayaan Bali dan sekte-sekte yang pernah berkembang di Bali, dimana salah satu sekte tersebut adalah waisnawa. Dalam penerapan ajaran agama Hindu di Indonesia khususnya di Bali sekarang ada banyak hal yang mencirikan ajaran waisnawa. Adapun ajaran waisnawa yang masih bisa dilihat dalam Siwa sidhanta saat ini seperti : tempat suci, orang suci, hari suci, dan upacara.
Sebagaimana diketahui, di masa silam di Bali terdapat banyak sekte: Saiwa, Ganapatya, Sora (Surya), Brahmana, Sakta, Pasupata, Waisnawa, dan lainnya. Kemudian setelah kedatangan Mpu Kuturan, semua sekte di Bali dilebur menjadi sistem pemujaan Tri Murti dengan ciri khas Kahyangan Tiga: Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu, Pura Desa sebagai tempat memuja Dewa Brahma dan Pura Dalem sebagai tempat memuja Dewa Siwa.
Kahyangan Tiga ini ada di setiap Desa Pakraman, baik dalam bentuk pura atau tempat suci, tiga dewa utama itu yang disembah sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan perehabilitasi, namun dalam praktik ritual dan pemujaan berbagai figur ista dewata (dewa yang dimuliakan) masing-masing sekte semuanya dipuja. Sebutlah menyembah Dewa Surya dalam acara kramaning sembah atau Nyurya Sewana para sulinggih setiap pagi. Demikian juga Ganesha dipuja dalam upacara pecaruan sebagai dewa penghancur semua halangan. Tapi dalam ritual yang berwarna praktik tantrik rupanya yang dominan adalah pengaruh faham Sakti, utamanya Bhima Bhairawa.

III PENUTUP
Mpu Kuturan di Bali melihat suatu kenyataan bahwa agama Hindu yang berkembang terdiri dari sembilan sekte. Sembilan sekte tersebut adalah Siwa siddhanta, pasupata, bhairawa, waisnawa, bodha (sogatha), brahamana, resi, sora (surya), dan ganapatya.
. Walaupun Siwa sidhanta lebih mengutamakan pemujaan terhadap Siwa, juga merangkul lokal jenius kebudayaan Bali dan sekte-sekte yang pernah berkembang di Bali, dimana salah satu sekte tersebut adalah waisnawa.

perkiraan silsilah arya sentong

BABAD ARYA SENTONG
Resume,
ASTI”. Diceritakan bahwa ratu di Kedir,itulah Negara Daha.Kama Swara Sri Darmawangsa Teguh ananta Wikrama tunggadewa,berputra Sri Erlangga mempersatukan Negara,semua para Ratu sama menghamba kepadanya di seluruh pulau jawa terutama makasar,sama menghamba sama Sang Prabu, dan setelah beliau di nobatkan oleh Sri Empu Bradahyang berasrana di Lembahtadis,permaisuri beliau berdwijati, serta engan senang hati beliau melakukan ke Pansitaan dan beliau berputra 2 orang anak laki-laki sama bagus parasnya bernama:
1. Sri Haji Jayabaya dan adiknya bernama,
2. Sri Haji Jayabaya
Sungguh ibarat sebagai Surya Kembar eduanya beliau tersebut nampak.
Bahwa Sri Haji Jayabaya beristana dinegara Kuripan sedang adiknya Sri Haji Jayabaya tinggal di istana negara Daha
Sri Haji Jayabayaberputra Ratu Dangdang Gendis kalah perang melawan Ken Arok.
Ratu Dandang Gendis berputra Ratu Wijayakatong gugur di dalam peperangan.
Dan Sri Jayabaya ada juga putranya yang lain yang dilahirkan dari istri sauaranya Karya Patin Tua bertempat di Wilatikta yang tertua bernama Sri Arya Koripan beristana di Wilatika,adiknya bernama Sang Arya Dharma dan beristana di Tulembang.Beliau berdua berpaman disaudarakan dengan Kryan Patin Tua.
Sri Kryan Patin Tua Gajah Mada berastrama di Wilatikta. Sri Arya Dharma berputra 7 orang masing-masing bernama:
1. Sri Arya Damar
2. Sri Arya Sentong
3. Sri Arya Baleteng
4. Sri Arya Tanwikan
5. Sri Arya Kutawaringin
6. Sri Arya Kapakisan
7. Sri Arya Benculuk

Sang Prabu dari Wilatikta berisana di Hutan Alastrik dan adiknya bernama Sri Arya Dhamarberistana di Tulembang. Patih Maworda di Walatkta. Sang Prabu dn Sri Arya Damar berbapa disaudara dari perempuan dengan Patih Werda tergolong Wesia.
Dan ada pula patih brnama Tumenggung Suta, akan tetapi sudah melepaskan jabatanya, sebab Sang Prabu telah mendapatkan penggantinya ialah Patih Gajah Mada,kelahiran dari Patalaning Klapa. Dialah yang mendapatkan kepercayaan dari Sang Prabu mengenai segala tugas berat maupun ringan
Diceritkan awal kedatangan Sri Arya Sentong di Bali diawali saat-saat Sang Ratu Bali berbalik brontak kepada Sang Prabu Sang Prabu Wilatikta.Kedatangan Sri Arya Sentong ke Bali bersama-sama dengan para Arya lainya untuk menggempur Sang Ratu Bali. Setelah semuanya aman dan para arya dan Patih Gajah Mada memenangkan pertempuran melawan Sang Ratu Bali lalu Sang Arya Damar dan Sang patih Gajah Mada kembali ke Wilatikta untuk melaporkan kepada Sang Prabu Wilatikta. Belum selesai pembicaraan Sang Arya Damar tiba tiba dating Sang Arya Sentong menghadap Sri Maharaja dan melapor bahwa di Bedahulu-Bali Turun seorang yang bernama Maha Denawa Dengan bertingkah laku ngusak asik di Bali.Dan menimbulkan peperangan dengan Dalem Bedahulu. Setelah mendengar laporang dariSang Arya Sentong LAlu Sang Prabu mengajak semua untuk brangkat kebali hari itu juga untuk menggempur Maha Denawa. Dan hakhirnya Maha denawa kalah, lalu sang prabu berssama Sang Arya menuju ke Gelgel dan disana mendirikan Puri dan Para Arya Tinggal bersebelahan. Dan sesudah sekian lama menetap disana dan hakhirnya sang prabu memerintahkan Sang Arya Damar (sekarang Sng Arya Kenceng) untuk mengatur penempatan para Arya, yaitu sebagai berikut:
1. Sang Arya Sentong bertempat di desa Pacung, dan semenjak itu Sri Arya Sentong memakai sebutnan I Gusti Ngurah Pacung.
2. Sang Arya Beleteng bertempat di desa penatih.
3. sang Arya Kutawaringin bertempat di desa Kapal.
4. Sang Arya Belog bertempat di desa Abiansemal.
5. Sang Arya Benculung bertempat di desa Tangkas (gelgel).
Akan tetapi Sri Arya Sentong sangat aku sayangkan, sebab ia perkasa laksana, tiada takut dengan musuh dan sangat berani teguh (kebal) dan tetap pendiriannya (pageh). Patulah Dia kebahagian dana, dan Sri Arya Beleteng patut menjadi pati oleh Sri Arya Sentong. Sesudah beberama kemudain diceritakan kebesaran Kerajaan I Dewa Agung Di Klungkung. Dilaksanakan oleh para tanda Mentri sekalian ialah Arya Setong, Sri Arya Jlantik, setelah menaklukkansasak, dan Nusa yang dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Jelantik, serta I Ngusti Ngurah Pacung (Arya Sentong) bersama para bauadanda lainnya yang menjujung kehendak Dalem,Dalem sangt berterimakasi serta memberikan anugrah kepada I Gusti Ngurah Jlantik sebuah keris berkepala Mas pusaka keliliran bernama Sitan Pekadang dan I Gusti Ngurah Pacung di berikan hadiah sebuah keris bernama Si Sekar Sandat sedang I Gusti Ngurah Kanca diberikan panggawin(tombak) bernama Baru Jaruju. Entah selang berapa lamanya tibalah saatnya kadatangan kaliyuga, timbul pikiran jahat I Gusti Kanca terhadap I Gusti Ngurah Jelantik dan I Gusti Ngurah Pacung yang menyebkan demikian oleh karma lamaran peminangan I Gusti Kanca ditolak oleh I Gisti Ngurah Jelantik karma putrinya I Gusti Ngurah Jelantik telah dipakai istri oleh I Gusti Ngrah Pacung, itulah yang menyebabkan I Gusti Kanca sangt merasa kecewa dan mendendam lalu melaporkan (laporan palsu) kepada Dalem, ikatakan bahwa I Gusti Ngurah Jelantik bersama I Gusti Ngurah Pacung akan berbalik(memrontak) terhadap Dalem.Dari kecintaanya Dalem kepada I Gusti Kanca laporanya dipercaya dan dititahkanya I Gusti Kanca untuk merusak I Gusti Ngurah Jlantik, lalu ia minggat pada malam hari bersama dengan ayahnya di denbukit di tempatkan di Blahbatuh. I Gusti Ngrah Pacung diusir oleh Dalem pergi ke Nusa selama 1 bulan disana, akan tetapi belum cukup lamanya datang utusan I Dewa Agung ke Nusa menjebput agar segera datang menghadap ke Klungkung, baru tiba dijumpai harapan malam, disana I Gusti Ngurah Pacung menginap sedang utusan bertolak ke Klungkung melaporkan kepada I Dewa Gede Agung bahwa I Gusti Ngurah Pacung sudah datang dan malam ini mengginap di Jumpai. Keesokan harinya datang lagi utusan I Dewa Agung untuk menjemputnya, utusan matur: Ya I Gusti Ngurah Pacung menjawab; Kamu utusan, aku berpesan kepadamu sampaikan kehadapan I Dewa Agung, sebagaimana maksud beliau menghendaki aku kembali lagi ke Klungkung,katakanlah bahwa aku mohon diri(pamitan) dan biarkanlah aku menggembara, dan dimanapun nanti aku mendapat tempat, tidak akan menggurai baktiku kepada I Dewa Agung,sekian dan putusan bertolak kembali.
Syah dan bahwa I Gusti Ngurah Pacung bertolak dari jumpai ke utara menyelusuri pasisir pantai tiba di pantai Lebih di perjalanan mandek di tahan oleh Betara Kala”Hai Pacung kamu kemana”?I Gusti Ngurah Pacung matur sembah; Ya Ratu Paduka Batara, maafkan agar batik tidak terkena kutuk, bahwa batik Paduka Batara mendapat murka serta diusir oleh I Dalem Klungkung dan hamba akan kembali ke Majapahit. Batara Kala bersabda: kalau begini nantikan tidak ada Pacung lagi di Bali, dicabutnya suing (tring) Batara Kala sebelah kiri lalu menjadi besi tombak dan di anugrahkan kepaa I Gusti Ngurah Pacung, diberinama I Ulang- Ulang Gugub seraya sabdanya: Kamu Ngurah Pacung inilah selaku senjatamu dalam perjalanan dan aku peringgatkan kepadamu membawa senjata ini di dalam perjalanan sama sekali kamu tidak boleh minggir, setelah itu Batara Kala menghilang.
I Gusti Ngurah Pacung melajutkan perjalanan menuju kearah barat, setibanya di sebelah utara Bedahulu berpapasan dengan I Gusti Ngurah Jlantik Blahbatuh yang datang dari arah Barat bergayot (rembat) dengan iringan penggawin dan mamas bo, dan parekanya menyuruh I Gusti Ngurah Pacung supaya minggir, akan tetapi I Gusti Ngurah Pacung sama sekali tidak menghiraukan permintaan parekan tersebut sehingga terjadi pertengkaran mulut antara parekan atau iringan I Gusti Ngurah Jlantik dengan I Gusti Ngurah Pacung oleh karena masing-masing bertahan sama-sama tidak suka minggirmenyebabkan sangat marahnya kedua belah pihak ,lalu I Gusti Ngurah Pacung direbut oleh iring-iringan Blahbatuh, lalu I Gusti Ngurah Pacung menunjukan (nebahang) tombak anugrah Batara Kala ( Olang –olang Guguh) ,seketika bala Blahbatuh jatuh (rempak) dan tidak berani berkutik serta jongkok semuanya.
Melihat itu marahlah I Gusti Ngurah Jlantik Blahbatuh , lalu terjadi perang tanding I Gusti Ngurah Pacung antara I Gusti Ngurah Jlantik, saling tusuk dengan tombak keris akan tetapi tidak / yang luka sehingga masing-masing sudah sama payah lalu I Gusti Ngurah Jlantik berkata “ hai kamu siapa, siapa sebenarnya kamu ini sangat sakti dan teguh. I Gusti Ngurah Pacung segera menjawabnya:” aku I Gusti Ngurah Pacung, diam di desa Pacung Gelgel ,dan kamu siapa dijawab oleh I Gusti Ngurah Jlantik “ aku I Gusti Ngurah Jlantik berdiam I Blahbatuh.
I Gusti Ngurah Pacung menyahut lagi, kalau demikian bahwa kamu bersaudara denganku, dan hentikanlah berperang . Sesudah selesai Omong-omong lalu masing-masing memakan sirih, setelah selesai makan sirih pembicaraan dilanjutkan pula kemudian bersantap bersama sama. Memprhatikan keadaan demikian itu semua iringan Blahbatuh bersenang hati. I Gusti Ngurah Pacung berkata:” Ngurah Jlantik marilah kita sekarang bertukaran ikat pinggang kita masing-masing POLENG JLANTIK saya yang membawa, dan putih Pacung Ngurah yang membawanya, ini kita jadikan peringgatan (tunggul) dan mulai kini dan kemudian bahwa pereti sentana (keturunan kita) jangan lagi berperang dengan I gusti Ngurah Jlantik dengan Ngurah Pacung, setelah itu baru masing-masing menukarkan sabuk(ikat pinggang).
Sesudah selesai pembicaraan (agreetmen), I Gusti Ngura Jlantik kembali pulang ke Blahbatuh dan tempat bekas peperangan ini dinamainya Marga Sengkala.
Diceritakan sekarang perjalananya I Gusti Ngurah Pacung terus menuju arah barat, setibanya dihutan Kekeran Desa Tabanan, disana beliau menetap dan mendirikan bangunan (Puri), dan belum sampai 3 tahun beliau tinggal di Kekeran, banyaklah orang-orang turut serta kurang lebih 60 kuren (KK), lalu beliau berpindah lagi menuju arah ketimur berhenti di Pacung Menguwi , lama kelamaan berpisah lagi diiringi oleh rakyat semua menuju keutara tempatya disebelah timur desa Banjar Sayan Menguwi bekas tempat kediaman I Gusti Ngurah Pacung disana okor dank ini dinamai Subak Pacung lalu berhenti di hutan belantara, dimana rakyat sama mendirikan rumah(kubu) dan setelah sama selesai, lalu mendirikan istana (puri) dan tempat ini diberikan nama desa parasian. Lama kelamaan beliau berpuri didesa Parariyan suah mempunyai rakyat 5000 lalu beliau dinobatkan (mabiseka) dengan gelar I Gusti Ngurah Pacung Gede beristana di Peryan.
Disebutkan I Gusti Ngurah Made Pacung dan I Gusti Ngurah Nyoman Pacung keduanya adalah sauara dari I Gusti Ngurah Pacung Gede masing-masing mendapat kawibawaan (jabatan).
Bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede mempunyai seorang raka, kemudian setelah I Gusti Ngurah Pacung Gede wafat, maka putranya ( I Gusti Ngurah Raka ) dinobatkan untuk menggantikan ayahnya bergelar I gisti Ngurah Raka Pacung.
I Gusti Ngurah Gede Raka Pacung berputra seorang laki-laki bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung, mengantikan Putranya Setelah Wafat.
I Gusti Putu Pacung berputra 2 orang nama, I Guti Ngurah Pacung Rai. Kemudian setelah I Gusti Ngurah Putu Pacung wafat di gantikan oleh putranya yang Tertua( I Gustu Ngurah Pacung Gede).
Bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede berputra 4 orang laki-laki
1. I Gusti Ngurah Pacung Sakti
2. I Gusti Ngurah Made Beleleng berdiam di Sembung dengan rakyat 800.
3. I Gusti Ngurah Nyoman Bayan berdiam di Bayan memegang rakyat 600
4. I Gusti Ngurah Ketut Babahan memegang rakyat 200.
Setelah I Gusti Ngurah Pacung Gede wafat dig anti oleh putranya bernama I Gusti Ngurah Pacung Sakti menduduki istana Peryan, beliau memperistrikan seseorang bernama I Gusti Luh Penatih mempuyai 7 orang putra, 6 laki-laki 1 perempuan, namanya:
1. I Guti Ngurah Pacung Gede
2. I Gusti Ngurah Rai
3. I Gusti Ngurah Abianbatuh
4. I Gusti Ngurah Nengah Abianbatuh
5. I Gustu Luh Abiantubuh
6. I Gusti Ngurah Tahunan dan
7. I Gusti Ngurah Bukian.
Bahwa I Gusti Ngurah Rai kedana oleh I Gurah Pacung Gede oleh karma beliau tidak mempunyai keturunan dan I Gusti Ngurah Abiantubuh di dudukan selaku Manca memegang rakyat 200, I Gusti Ngurah Nengah Abiantubuh ditempatkandi Bluangan dengan rakyat 20 lantaran beliau sangat bodoh dan kesukaanya memelihara itik. I Gusti Ngurah Tahunan diberi kedudukan di Peryan menggurus rakyat 200. I Gusti Ngurah Bukian diberi kedudukan Manca di Peryan memegang rakyat 100. I Gusti Luh Abiantubuh diambil dipakai istri oleh I Gusti Ngurah Agung Gede Blambangan di Menguwi dan diganti namanya nenjadi I Gusti Luh Pacung mempunyai 2 orang anak:
1. I Gusti Ayu Pacung
2. I Gusti Agung Gede Pacung
Diceritakan selanjutnya, timbul murkanya I Gusti Ngurah Pacung Sakti terhadap saudaranya I Gusti Ngurah Babahan, semua rakyat di ambil oleh I Gusti Ngurah Pacung
Sakti, dan I Gusti Ngurah Nyoman Bayan juga menggalami nasib yang sama, yang menyebabkan I Gusti Ngurah Nyoman Bayan pergi menggungsi ke Den Bukit dengan penggikut rakyat 400. lalu menggusi lagi ke Desa Patemon( daerah Buleleng). Dikatakan bahwa menurut cerita bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti mempuyai seekor anjing bernama I Balang Uyang, sebab warna belangnya slalu berobah-obah menurut matahari, maka oleh karnanya I Belang Uyang sangat disayang pengaruhnya dan diandel setiap I Gusti Ngurah Pacung Sakti berburu.
Pada suatu hari bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti sedang bersantap, bahwa I Belang Huyang yang selalu berada disampig beliau, melihat seekor binatng kelasih di atas tembok gedong lalu diterjangnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang masih sedang santap, hal mana yang menimbulkan amarah I Gusti Ngurah Pacung Sakti , segera menembak I Belang Huyng dan seketka itu mati.
Setelah itu I Belang Huyang mati, barulah dilihat oleh I Gusti Ngurah Pacung sakti dad seekor kelesih diatas tembok gedong amatlah sedih hati beliau sambil memukul paha tentang tertembak matinya I Belang Huyang, dimana lantas beliau menyuruh hambanya menggubur bangkai anjing itu disebelah Barat daya Puri Peryan disertai dengan bebanten depungan upacara lengkap, pakaian satu rangsuk, satu barong gong Tirta penglepas dan sarwa prani, Demikianlah kuburan I Belang Huyang menjadi kramat(angker) hingga sekarang.
Sesudah sekian lama di ceritakan bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti marah kepada saudaranya bernama I Gusti Ngurah Buleleng di Sembung, sehingga masing masing dijaga oleh rakyatnya. Sesudah lebih dari tiga hari lamanya penjagaan dilakukan redalah amarahnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti terhadap I Gusti Ngurah Buleleng, yang menyebabkan reda amarahnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti karena tidak mampu menyerbu I Gusti Ngurah Buleleng, sebab I Gusti Ngurah Buleleng satu satunya yudha tertunggaldi Peryan yang sangat diandalkan oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti, itulah rakyat penabengnya(tamengnya) diperintahkan pulang. Oleh karana demikian bahwa penjagaan di Bencingah Perian kosong,sedangkan penjagaan di Sembung nasih tetap aktip atau siap tempur.
Diketahui penjagaan dibencingah Peryan sudah kosong, lalu pasukan I Gusti Buleleng memasuki Peryan. Teryata bahwa bencingah Peryan suah di kosongkan, disitu lalu I Gusti Ngurah Buleleng mengerahkab pasukannya atau rakyatnya meyerbu kepuri, diketemui I Gusti Ngurah Pacung Sakti sedang berada di puri Java tengah dapat ditewaskan dan mayat beliau ditimbuni dengan runtuh-runtuhan tembok, seketika itu meledaklah timbunan itu dan dilihat oleh rakyat banyak bahwa I Gusti Ngurah Pacung Sakti terbang menunggangi Nag Kaung kearah tmur laut, memakai lancingan( kancut) geringsing wayang, lacingnya (kacutnya) engsut (tertinggal) diatas pohon bringgin didesa Tuka.
Demikian dapat dikatakan bahwa beliau memperoleh surga. Keesokan harinya, diceritakan bawa putra-putra dari I Gusti Ngrah Pacung Sakti yang berada di Peryan, tiada angan tinggal di Peryan lalu sama meningalkan desa Peryan menibggalkan Kraton dan sebuah pemerajan yang ada disana yang kini disebut perang Pura Sari menggunsi:
1. I Gusti Ngurah Pacung Gede menuju ke Payangan, diirinhi oleh rakyat 400 kepala keluarga.
2. I Gusti Ngurah Rai ikut ke Payangan.
3. I gusti Ngurah Bukian menuju ke Subania-Tabanan dengan rakyat 100 Kepala keluarga.
4. I Gusti Ngurah Tauman menuju ke Bukian (Payangan) dengan rakyat 200 kepala keluarga dan berganti nama dengan nama I Gusti Ngurah Bukian.
5. I Gusti Ngurah Abianbatuh menuju ke Ubud dengan rakyat 200 kepala keluarga melindungi diri kepada I gusti Sampalan.
6. I Gusti Ngurah Abiantubuh masih tinggal di Beluangan menghaba kepada pamanya I Gusti Ngurah Buleleng.
Diceritakan sekarang I Gusti AgungPacungsemasih kanak-kanak dipermintakan kepayangan kepada I Gusti Ngurah Pacung Gede oleh ayahnya I Gusti Agung Gede Blambangan dan sesudah dewasa I Gusti Agung Pacung di Payangan menderita sakit cacar dan meninggal dunia. Sesudah lama I Gusti Ngurah PAcung Gede tinggal di Payangan mepunyai 3 orang putra:
1. I Gusti Ngurah Pacung Oka
2. I Gusti Ngurah Rai
3. I Gusti Ngurah Taro, bertempat di Taro dengan rakyat 200 kepala keluarga.
Sesudah wafat I Gusti Ngurah Pacung Gede diganti oleh putranya nama I Gusti Ngurah Pacung Oka penyeneng di Payangan bergelar I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka.
Diceritakan I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka membuat sawah disebelah Timur Payangan isana beliau memunggut besi calon keris dan disimpan dibawah kasur. Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka menggambil istri pepadan, pada hari perkawinan (Pawiwahan) tidak ada alat untuk di pakai nigas ( menusuk tikar dadakan) lalu inggat menaruh besi calon keris yang di taruh di bawah kasur terus diambil terdapat bahwa besi itu sudah menjadi keris, luk lelima, ganja celok, panggeh mailut.
Keris inilah dipakai nigas(menusuk tikar dadakan) alat upacara perkawinan, tiba-tiba meninggal pengantin istri ( I Gusti I luh) semenjak itu bahwa keris itu diberinama” Baru Pas” sedang sawah tempat besi itu terpunggut diberinama sawah”Kasur Sari” Selain itu juga membuat swah disebelah selatan diberinama”I Biyanglalah dan Jaring Sutra”.
Sesudah lama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka berkuasa, timbul kemarahan I Gusti Agung Blambangan terhadap I Gusti Ngurah Gede Oka membuat fitnah dan dilaporkan bahwa I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka bertidak semau-maunya tidak suka kena ayahan dan lain-lain, di laporkan terhadap I Dewa Agung Gede di Klungkung.
I Dewa Agung Gede menerima laporan I Gusti Agung Gede Blambangan, lalu diperintahkan rakyat Nyalian dan Bangli untuk menggempur Payangan, dan I Gusti Ngurah Taro membrontak terhadap saudaranya I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka, itu makanya rakyat Nyalian dan Bangli ditarik oleh I Gusti Ngurah Taro.
Hal ini diketahui oleh I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka, lalu beliau meninggalkan kraton dan pemerajan meninggalkan pemerajan menggungsi ke desa Karangsari Bangli diiringi oleh rakyat 400 kepala keluarga. Sesudah keris I Bayu Pas ketinggalan di puri payangan, yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka sebatang tombak anugrah Ida Batara Kala yang bernama I Olang –olang Guguh
Setelah lama berada di Karangsari menggalih pula menuju ke semuan tanah bekas tempat kediaman beliau disana angker. Dan sesudah lama berdiam disamuan lalu dijemput oleh I Mekel Telugtug bersama I Gusti Ngurah Babalang supaya beliau bersedia pindah berkedudukan di Carangsari untuk menggurus atau mengguasai rakyat Carangsari bersama Pedanda Gerya Gede. Diceritakan bahwa I Gusti Ngurah Rai menggungsi ke Petang diiringi oleh rakyat 40 kepala keluarga Setelah lama di Petang menggalih pula ke Pangsan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar